Senin, 18 November 2013
KISAH SEORANG PENJUAL SAPU LIDI
Aku teringat sesuatu akan masa kecilku yang terjadi sekitar 6-7 tahun yang lalu, ketika aku duduk di bangku sekolah dasar kelas 5-6 (maklum sudah lama sekali jadi lupa lebih tepatnya kapan). Seseorang yang membuatku semakin bersemangat untuk meraih tujuan hidupku di dunia ini. Ini terjadi ketika aku masih tinggal di Bandung.
Hari itu, kebetulan aku pulang cepat. Ku kayuh sepeda pemberian orang tuaku ketika usiaku beranjak 10 tahun, dengan penuh semangatnya ingin cepat-cepat sampai di rumah. Padahal sudah beberapa kali aku jatuh dari sepeda itu, tapi tetap saja aku tidak pernah kapok untuk pergi bersama sepeda tersebut. Hmm,, bekas lukanya pun masih ada sampai saat ini. Padahal itu terjadi sudah lama.
Sebenarnya aku bingung, jarang-jarang sekali aku bersemangat sekali. Sampai-sampai salah satu sahabatku bertanya ada apa ? Dan aku hanya membalaskan senyuman pada sahabatku itu.
Sesampainya di rumah, tidak ada kegiatan yang berbeda sama sekali. Pulang, istirahat, shalat, makan, tidur, bangun jam 3 atau 15 menit sebelum ashar, shalat, belajar, mandi. Tapi hari itu memang ada sedikit perubahan, entah mengapa aku tidak mau belajar sama sekali. Buku-buku pelajaran yang ada di dekatku malah aku lempar. Awalnya aku berpikir mungkin aku stress, namun ternyata setelah aku selesai mandi dan berpakaian masih saja tidak mau belajar. Aku dengar ada keramaian yang tidak biasanya di luar rumah. Segera aku sambar jilbab lebarku yang tergantung dibalik pintu.
Awalnya aku hanya melihat ada seorang laki-laki tua penjual sapu lidi. Namun setelah aku perhatikan kembali ternyata lelaki tua itu pengelihatannya terganggu hingga beliau tidak dapat melihat seperti manusia yang memiliki fisik sempurna. Aku perhatikan dan mendengarkan cerita beliau itu.
Di usia mudanya, lelaki tua itu tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan studinya. Hanya sampai SD saja. Sejak saat itu beliau selalu membantu orang tuanya berjualan hingga beliau menikah. Sempat beliau bekerja di salah satu pabrik, namun karena krisis moneter, beliau menjadi salah satu korban PHK. Karena beliau memiliki pengalaman usaha kecil-kecilan orang tuanya, akhirnya beliau dibantu memutuskan untuk melanjutkannya. Seperti membuat bilik, tikar, anyaman, sampai sapu lidi. Dengan tulus ikhlas beliau kerjakan hanya demi kepentingan anak-anaknya untuk meneruskan studinya hingga jenjang perguruan tinggi.
Mungkin reader bertanya-tanya, mengapa lelaki tua itu sampai tidak dapat melihat dengan sempurna. Ini dia ceritanya.
Ketika beliau sedang berada di kebun untuk mengambil bahan-bahan untuk membuat bilik dan sapu lidi, mata beliau kena serpihan bambu cukup banyak. Biasanya dengan mencuci matanya dengan boor water serpihan bambu itu keluar, namun sayangnya ini tidak, hanya keluar sedikit sekali. Beberapa hari demam tinggi, dan ketika akan pergi ke puskesmas, beliau sudah tidak dapat melihat seperti biasanya lagi. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat lelaki tua itu untuk terus membiayai sekolah kelima anaknya hingga jenjang tertinggi hingga mereka sukses. Syukur alhamdulillah cita-cita beliau dan istri tercapai. Dan beliau habiskan sisa hidupnya untuk berjualan sapu lidi.
Semoga reader dapat memetik hikmahnya dari cerita nyata ini dan dapat menjadikan support untuk kehidupan kita kedepan yang semakin lama semakin menantang dan kejam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar